<?xml version='1.0' encoding='UTF-8'?><?xml-stylesheet href="http://www.blogger.com/styles/atom.css" type="text/css"?><feed xmlns='http://www.w3.org/2005/Atom' xmlns:openSearch='http://a9.com/-/spec/opensearchrss/1.0/' xmlns:georss='http://www.georss.org/georss' xmlns:gd='http://schemas.google.com/g/2005' xmlns:thr='http://purl.org/syndication/thread/1.0'><id>tag:blogger.com,1999:blog-4737337732396924144</id><updated>2012-02-17T05:56:43.273+07:00</updated><title type='text'>Orangtua Efektif</title><subtitle type='html'>Tips untuk Menjadi Orangtua yang Efektif</subtitle><link rel='http://schemas.google.com/g/2005#feed' type='application/atom+xml' href='http://orangtua-efektif.blogspot.com/feeds/posts/default'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/4737337732396924144/posts/default?max-results=100'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://orangtua-efektif.blogspot.com/'/><link rel='hub' href='http://pubsubhubbub.appspot.com/'/><author><name>Paulus Herlambang</name><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='25' height='32' src='http://1.bp.blogspot.com/_ShLybJ76fZ0/Shtg4EFrYAI/AAAAAAAAAGQ/Rsy5fDs0_1w/S220/Paulus.JPG'/></author><generator version='7.00' uri='http://www.blogger.com'>Blogger</generator><openSearch:totalResults>7</openSearch:totalResults><openSearch:startIndex>1</openSearch:startIndex><openSearch:itemsPerPage>100</openSearch:itemsPerPage><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-4737337732396924144.post-3882232421263361281</id><published>2010-10-22T10:33:00.001+07:00</published><updated>2010-10-22T10:36:02.711+07:00</updated><title type='text'>Anak dan Uang Saku</title><content type='html'>Kemampuan mengelola keuangan dengan baik harus diajarkan kepada anak sejak dini. Jika sejak kecil seorang anak sudah dilatih untuk mengatur keuangannya secara bertanggung jawab, maka ia akan menjadi pengelola keuangan yang baik hingga tua.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Sebaliknya, jika sejak kecil seorang anak tidak bisa mengelola uang sakunya dengan baik, dapat dibayangkan kekacauan pengelolaan keuangannya di masa depan nanti.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Salah satu cara efektif mengajar anak mengelola keuangan yang baik adalah dengan memberi teladan. Jadilah ayah dan ibu yang tidak konsumtif, karena anak akan tergoda ikut-ikutan doyan belanja manakala orangtuanya berbuat demikian.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Tidak dapat dipungkiri bahwa kita hidup di zaman konsumerisme, godaan untuk terus berbelanja ada di mana-mana. Data menunjukkan bahwa dalam 15 tahun terakhir, di Amerika utang kartu kredit telah meningkat dari $3.000 menjadi $10.000 per rumah tangga.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Menurut “Business Week”, di Amerika setiap orang memiliki lima kartu kredit. Berbelanja dengan menggunakan kartu kredit membuat kebanyakan orang memakai uang masa depan, yang belum pasti masuk ke rekening kita. Ini bentuk pengelolaan keuangan yang buruk.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Baiklah kita memerhatikan beberapa langkah untuk mendidik anak menjadi bijak dalam mengelola keuangannya!&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;strong&gt;&lt;em&gt;Pertama, pemberian uang saku harus disesuaikan dengan penghasilan kita.&lt;br /&gt;&lt;/em&gt;&lt;/strong&gt;&lt;br /&gt;Pemberian uang saku anak merupakan salah satu pos pengeluaran rutin dalam pengeluaran keluarga, kita harus merencanakannya dengan cermat!&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Jangan manjakan anak dengan memberikan uang saku yang besar meskipun pendapatan kita relatif besar, karena itu akan membuat anak terbiasa mendapat lebih.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Ajaklah anak memahami bahwa untuk mendapatkan uang itu tidak mudah, perlu kerja keras dan perjuangan. Dengan demikian anak akan menyadari bahwa dia harus bijak mengelola dan menghargai uang saku yang diberikan orangtuanya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;strong&gt;&lt;em&gt;Kedua, uang saku diberikan bukan untuk dibelanjakan semuanya.&lt;br /&gt;&lt;/em&gt;&lt;/strong&gt;&lt;br /&gt;Berikan pengertian kepada anak bahwa uang saku yang mereka dapatkan sebaiknya ditabung sebagian. Yakinkan bahwa dia bisa mengelola keuangannya dengan baik.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Jika kita sudah bisa menumbuhkan kebiasaan menabung secara rutin sejak dini, maka di masa depan ia tidak akan mengalami kesulitan keuangan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Ajarkan juga ia bermurah hati, yaitu memberi kepada mereka yang membutuhkan. Ini akan menumbuhkan kasih dan kepedulian pada anak kita.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;strong&gt;&lt;em&gt;Ketiga, mengajarkan untuk membeli kebutuhannya yang kecil dengan memakai uang sakunya.&lt;br /&gt;&lt;/em&gt;&lt;/strong&gt;&lt;br /&gt;Berilah pengertian bahwa uang yang sudah menjadi hak anak sebaiknya jangan dibelanjakan untuk barang yang kurang berguna. Mintalah anak untuk membeli kebutuhan-kebutuhannya yang kecil, misalnya pensil, pena, buku tulis, dsb.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Jangan bosan mengingatkan bahwa ia harus membelanjakan uangnya sesuai dengan kebutuhan, bukan keinginannya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;-----&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;strong&gt;Kata-kata bijak:&lt;br /&gt;&lt;/strong&gt;Didikan dan disiplin orangtua di masa kecil lebih berharga daripada warisan yang melimpah tanpa disiplin.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;* * *&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Sumber: Manna Sorgawi, 22 Oktober 2010 (diedit seperlunya)&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Di-&lt;em&gt;online&lt;/em&gt;-kan oleh &lt;a href="http://www.blogger.com/profile/10532221403391756597"&gt;Paulus Herlambang&lt;/a&gt;.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;=====&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/4737337732396924144-3882232421263361281?l=orangtua-efektif.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/4737337732396924144/posts/default/3882232421263361281'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/4737337732396924144/posts/default/3882232421263361281'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://orangtua-efektif.blogspot.com/2010/10/anak-dan-uang-saku.html' title='Anak dan Uang Saku'/><author><name>Paulus Herlambang</name><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='25' height='32' src='http://1.bp.blogspot.com/_ShLybJ76fZ0/Shtg4EFrYAI/AAAAAAAAAGQ/Rsy5fDs0_1w/S220/Paulus.JPG'/></author></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-4737337732396924144.post-3775147158068007364</id><published>2010-09-18T10:49:00.002+07:00</published><updated>2010-09-18T10:51:26.340+07:00</updated><title type='text'>Jangan Sakiti Anak-anak Kita</title><content type='html'>Banyak orangtua yang kurang mengerti bagaimana membesarkan anak-anak dalam kasih dan didikan yang bijaksana. Di masa kecil dulu, saya sering menyaksikan ayah salah satu teman saya yang begitu kejam dan kasar terhadap anak-anaknya sendiri.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Beberapa kali anak perempuannya yang berkulit putih (bukan &lt;em&gt;bule&lt;/em&gt;) datang ke sekolah dengan mata lebam, atau kaki yang merah dan bengkak akibat pukulan benda keras.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Kekejaman paling sadis yang dilakukan oleh sang ayah adalah menyiram tubuh anak perempuannya tersebut dengan minyak tanah, lalu menyulut daun kelapa untuk membakarnya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Untunglah, api baru sempat “menjilat” kaki anak itu ketika ibunya menarik anaknya menjauh. Alasan sang ayah melakukan tindakan itu adalah karena anak perempuannya itu ketahuan mencuri.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Masih banyak kasus kekejaman terhadap anak yang saya ingat. Ada yang dipukuli orangtuanya hingga terkencing-kencing, ada yang dihantam dengan buluh hingga buluh itu pecah, dan banyak yang dimaki-maki dengan kata-kata yang kasar.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Ketika anak-anak menginjak masa remaja dan mulai jatuh cinta, orangtua mengawasi secara ekstra ketat, bahkan ada yang memaki-maki dan memukul anaknya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Yang saya amati dari semua perlakuan di atas adalah tidak adanya kesadaran dari orangtua bahwa anak adalah pribadi yang punya perasaan, perlu dihargai dan diperlakukan secara bijaksana.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Semua bentuk kekerasan yang dilakukan terhadap anak akan membawa dampak negatif dalam pertumbuhan jiwa mereka. Mereka bisa menjadi anak-anak yang menyimpan kepahitan, minder, tidak mau bergaul, bahkan kehilangan figur yang benar terhadap Bapa sorgawi karena perlakuan ayah yang kasar.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Sebagai orangtua, marilah kita membesarkan anak-anak kita dengan kasih dan bijaksana. Bukankah Tuhan mengingatkan melalui firman-Nya agar kita jangan membangkitkan amarah dalam hati anak-anak kita?&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Juga janganlah sakiti hati anak-anak anda. Sering kali orangtua merasa berhak melakukan apa saja terhadap anak. Memukul anak tidak pada tempatnya merupakan penganiayaan fisik, sedangkan memaki, membentak, dan mengeluarkan kata-kata kasar terhadap anak merupakan penganiayaan mental terhadap anak.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Jika anak-anak kita melakukan kesalahan, tegur dan nasihatilah dengan kasih. Perlakuan keras akan membawa dampak yang tidak baik terhadap perkembangan jiwa anak.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Mintalah hikmat dari Tuhan dalam mendidik anak-anak. Biarkan Tuhan memenuhi hati kita dengan kasih dan kesabaran dalam membesarkan anak-anak titipan Tuhan tersebut.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Jika selama ini anda sebagai orangtua telah menyakiti hati anak-anak anda, berbesar hatilah untuk meminta maaf kepada mereka. Mintalah kepada Tuhan untuk memampukan anda memulai babak baru dalam mendidik anak dan menjadi orangtua yang baik.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;-----&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;strong&gt;Kata-kata bijak:&lt;br /&gt;&lt;/strong&gt;Jika anak hidup dengan kekerasan, ia akan belajar untuk melawan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;* * *&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Sumber: Manna Sorgawi, 18 September 2010&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Judul asli: Jangan Sakiti Mereka&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Di-&lt;em&gt;online&lt;/em&gt;-kan oleh &lt;a href="http://www.blogger.com/profile/10532221403391756597"&gt;Paulus Herlambang&lt;/a&gt;.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;==========&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/4737337732396924144-3775147158068007364?l=orangtua-efektif.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/4737337732396924144/posts/default/3775147158068007364'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/4737337732396924144/posts/default/3775147158068007364'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://orangtua-efektif.blogspot.com/2010/09/jangan-sakiti-anak-anak-kita.html' title='Jangan Sakiti Anak-anak Kita'/><author><name>Paulus Herlambang</name><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='25' height='32' src='http://1.bp.blogspot.com/_ShLybJ76fZ0/Shtg4EFrYAI/AAAAAAAAAGQ/Rsy5fDs0_1w/S220/Paulus.JPG'/></author></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-4737337732396924144.post-414165065570253828</id><published>2009-11-12T09:29:00.003+07:00</published><updated>2009-11-12T09:37:10.924+07:00</updated><title type='text'>Lima Menit Lagi!</title><content type='html'>Di sebuah taman bermain untuk umum seorang wanita duduk di bangku taman, di sebelah seorang pria.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Itu anak laki-laki saya,” kata wanita itu membuka percakapan seraya menunjuk seorang anak laki-laki yang memakai sweater warna merah dan sedang bermain perosotan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Dia terlihat anak yang baik,” jawab pria di sebelahnya, “dan itu anak laki-laki saya yang memakai sweater biru dan sedang bermain ayunan.”&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Si pria kemudian melihat jam tangannya kemudian berteriak memanggil anaknya, “Ayo Ted, kita pergi sekarang.” Teddy memohon kepada ayahnya, “Lima menit lagi, Yah! &lt;em&gt;Please&lt;/em&gt;, lima menit lagi ya…”&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Pria itu menganggukkan kepalanya dan Teddy kembali melanjutkan berayun, memuaskan hatinya. Menit-menit berlalu sebelum sang ayah berdiri dan memanggil kembali anaknya. “Waktunya untuk pergi, Ted!”&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Sekali lagi Teddy memohon, “Lima menit lagi, Ayah. Hanya lima menit lagi.” Si pria tersenyum dan berkata, “Baiklah!”&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Luar biasa, anda pasti seorang ayah yang sabar,” komentar si wanita yang berada di sebelahnya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Pria itu tersenyum dan berkata, “Anak sulung saya, Tommy, ditabrak oleh seorang pengemudi mabuk tahun lalu ketika ia sedang bermain sepeda di sekitar taman ini. Saya tidak pernah meluangkan banyak waktu buat Tommy, dan sekarang saya ingin mengorbankan apa saja agar dapat berada bersamanya lima menit lagi. Saya berjanji tidak akan mengulangi kesalahan yang sama terhadap Teddy. Dia berpikir bahwa dia mendapatkan lima menit tambahan untuk berayun-ayun. Kebenaran sesungguhnya, saya mendapatkan lima menit tambahan untuk berada bersamanya dan mengawasinya bermain.”&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;* * *&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Jika saat ini anda sudah terjebak dalam sesuatu yang sangat menarik hati anda dan mengabaikan hal-hal lain yang lebih penting, segeralah seimbangkan kembali hidup anda.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Ingatlah bahwa hidup ini sebenarnya adalah soal pilihan, apa yang anda pilih untuk lebih diutamakan dalam kehidupan ini? Jika anda ingin hidup bahagia, utamakanlah hal-hal yang utama. Berilah lima menit tambahan dari waktu anda hari ini kepada orang-orang yang anda kasihi.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;-----&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;strong&gt;Kata-kata Bijak:&lt;br /&gt;&lt;/strong&gt;Tiada pemandangan yang lebih indah di dunia ini selain keluarga yang hidup saling mengasihi.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;* * *&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Sumber: Manna Sorgawi, 12 November 2009 (diedit seperlunya)&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Di-&lt;em&gt;online&lt;/em&gt;-kan oleh &lt;a href="http://www.blogger.com/profile/10532221403391756597"&gt;Paulus Herlambang&lt;/a&gt;.&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/4737337732396924144-414165065570253828?l=orangtua-efektif.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/4737337732396924144/posts/default/414165065570253828'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/4737337732396924144/posts/default/414165065570253828'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://orangtua-efektif.blogspot.com/2009/11/lima-menit-lagi.html' title='Lima Menit Lagi!'/><author><name>Paulus Herlambang</name><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='25' height='32' src='http://1.bp.blogspot.com/_ShLybJ76fZ0/Shtg4EFrYAI/AAAAAAAAAGQ/Rsy5fDs0_1w/S220/Paulus.JPG'/></author></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-4737337732396924144.post-6789165966156616767</id><published>2009-09-24T19:48:00.010+07:00</published><updated>2009-09-24T20:43:06.368+07:00</updated><title type='text'>Apakah Anda Memonitor Anak-anak Lewat Facebook?</title><content type='html'>Topik yang saya lontarkan di &lt;a href="http://www.facebook.com/pherlambang?v=feed&amp;amp;story_fbid=166176640662"&gt;&lt;span style="color:#3333ff;"&gt;Status facebook saya&lt;/span&gt;&lt;/a&gt; beberapa hari yang lalu (22/9/09) mendapat tanggapan yang luar biasa. Saya menulis sebagai berikut:&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Apakah anda memonitor anak-anak anda lewat facebook? Dua orang anak laki-laki saya (17 dan 15 tahun) juga main facebook. Tapi saya gak &lt;em&gt;add&lt;/em&gt; mereka sebagai &lt;em&gt;friends&lt;/em&gt; atau mencantumkan mereka dalam daftar &lt;em&gt;Children&lt;/em&gt;. Kalau kita memonitor anak-anak kita lewat facebook, berarti mereka juga bisa memonitor kita dong? Tolong &lt;em&gt;share&lt;/em&gt; pengalaman anda. Thanks.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;* * *&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Saya mengucapkan terima kasih kepada teman-teman yang sudah bersedia berbagi pengalaman pribadinya. Inilah &lt;em&gt;sharing&lt;/em&gt; mereka selengkapnya:&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;a href="http://www.facebook.com/profile.php?id=1606407851"&gt;&lt;strong&gt;Andri Setiawan&lt;/strong&gt;&lt;/a&gt;&lt;br /&gt;ga usah dimonitor tp cukup diawasi di kehidupan nyata aja&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;a href="http://www.facebook.com/wulan.salim"&gt;&lt;strong&gt;Wulan Salim&lt;/strong&gt;&lt;/a&gt;&lt;br /&gt;anak anakku dua dua nya ku add jadi friends disini, so the friends of my friiends are their friends, semua mereka tahu ttg teman temanku dan aku tahu teman teman mrk, tdk ada yg kami tutupi, komunikasi kami lancar dan cepat berkat facebook. alhamdullilah.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;a href="http://www.facebook.com/profile.php?id=1330429792"&gt;&lt;strong&gt;Menik Dian Mardiani&lt;/strong&gt;&lt;/a&gt;&lt;br /&gt;sama dong..anak semata wayangku jg nggak mau add mama papanya...padahal kita^kan ingin tahu apa yg dia rasakan dan alami sehari-hari..dia cuma mau dimasukkan YM, jd bisa sih dialog dan kirim gbr lucu2 stp hari..(maklum kami tinggal berjauhan).&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;a href="http://www.facebook.com/profile.php?id=1304981293"&gt;&lt;strong&gt;Sarwan Muhamad&lt;/strong&gt;&lt;/a&gt;&lt;br /&gt;Anak2 kami semua sdh dewasa, mereka berhak menentukan komunitas sendiri , sampai sekarang belum saling add&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;a href="http://www.facebook.com/profile.php?id=1606407851"&gt;&lt;strong&gt;Andri Setiawan&lt;/strong&gt;&lt;/a&gt;&lt;br /&gt;wah,,apa lg ya pengalamannya?biasanya anak2 seperti saya punya bnyk akun fb yg usernamenya beda2&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;a href="http://www.facebook.com/profile.php?id=1213070383"&gt;&lt;strong&gt;Lilik Djuwita&lt;/strong&gt;&lt;/a&gt;&lt;br /&gt;kalo sy beserta suami &amp;amp; anak2 saling add &amp;amp; kalo km berjauhan bisa saling berkomunikasi &amp;amp; utk kt ga ada masalah &amp;amp; ga ada yg di-tutup2i, bahkan bisa saling berbagi jika ada masalah&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;a href="http://www.facebook.com/pherlambang"&gt;&lt;strong&gt;Paulus Herlambang&lt;/strong&gt;&lt;/a&gt;&lt;br /&gt;Alasan saya gak add anak-anak saya adalah supaya mereka bisa bebas, gak merasa diawasi. Pengawasan bisa dilakukan lewat kehidupan nyata sehari-hari, seperti yang dikemukakan oleh rekan Andri Setiawan. Kalau perlu berkomunikasi bisa lewat henpon atau sms.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;a href="http://www.facebook.com/dedenfd"&gt;&lt;strong&gt;Fatahuddin Djauzak&lt;/strong&gt;&lt;/a&gt;&lt;br /&gt;Empat anak perempuan dan satu lelaki, semuanya aku add, senang rasanya bisa terhubung dengan mudah. Memberi nasihat lewat FB lebih mudah dan cepat mendapatkan respons .Jika jarak memungkinkan. tentunya nasihat dgn cara2 biasa lebih diutamakan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;a href="http://www.facebook.com/profile.php?id=1568299665"&gt;&lt;strong&gt;Haryono Sunityo&lt;/strong&gt;&lt;/a&gt;&lt;br /&gt;saya add 2 anak saya yg sdh remaja justru mrk yg buatkan fb saya hihihi, kami sering komunikasi lwt fb, teman mrk jg teman saya jg sebaliknya mrk tahu tmn papanya..&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;a href="http://www.facebook.com/pherlambang"&gt;&lt;strong&gt;Paulus Herlambang&lt;/strong&gt;&lt;/a&gt;&lt;br /&gt;Mereka sebenarnya mengizinkan saya untuk add mereka. Tapi gak saya lakukan. Kalau istri saya, lain lagi alasannya. Dia gak punya account facebook.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;a href="http://www.facebook.com/profile.php?id=1213070383"&gt;&lt;strong&gt;Lilik Djuwita&lt;/strong&gt;&lt;/a&gt;&lt;br /&gt;mereka tetap bebas &amp;amp; tidak merasa diawasi, kenapa kt memilih komunikasi lewat fb krn lewat HP seringkali ga ada sinyal, apalagi kalo anak yg tertua sedang berada di pedalaman Papua, sinyal HP susah skali&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;a href="http://www.facebook.com/profile.php?id=1213070383"&gt;&lt;strong&gt;Lilik Djuwita&lt;/strong&gt;&lt;/a&gt;&lt;br /&gt;Jadi FB utk kita bukan utk saling memata-matai tp utk berkomunikasi apabila salah satu sdng berjauhan&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;a href="http://www.facebook.com/profile.php?id=1413912823"&gt;&lt;strong&gt;Chiquita Pitono&lt;/strong&gt;&lt;/a&gt;&lt;br /&gt;Anak gw yg besar tadinya gak mau add ibunya...takut di mata2in..tp akhirnya dia add juga sih. Masalah anak takut diawasi org tua atau sebaliknya...hmmm..kayaknya gak perlu segitu kuatir, krn selama kita ngerti anak, gak masalah koq.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;a href="http://www.facebook.com/profile.php?id=1450592742"&gt;&lt;strong&gt;Tri Wahyu Handayani&lt;/strong&gt;&lt;/a&gt;&lt;br /&gt;kami ber-4, bpk-ibu-2 ank, saling add, ga mslah. Perlu u.kmuniksi krn beda kota. Yg sya tahu, mrk ga suka, ortu sering kmntar di wall mereka. Di dunia nyata jg bgitu kaan, anak punya dunia sndiri.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;a href="http://www.facebook.com/profile.php?id=1288830353"&gt;&lt;strong&gt;Ike Yulia W&lt;/strong&gt;&lt;/a&gt;&lt;br /&gt;saya add ke 3 anak saya &amp;amp; sering berkomunikasi dgn 2 diantaranya, kecuali 1 org yg abg gak pernah saya koment statusnya krn dia gak mau, takut diejek kwnnya, tapi dia pajang foto saya di profilenya &amp;amp; dia tulis dia bangga punya ibu spt saya, gak gaptek ktnya&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;a href="http://www.facebook.com/profile.php?id=1654305264"&gt;&lt;strong&gt;Dondi A. Dolariyanto&lt;/strong&gt;&lt;/a&gt;&lt;br /&gt;Setuju banget, mas. Saya juga begitu karena beda tingkat usia sudah beda kepentingan dan domain networknya !&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;a href="http://www.facebook.com/profile.php?id=1177064249"&gt;&lt;strong&gt;Budi Priyo Handogo&lt;/strong&gt;&lt;/a&gt;&lt;br /&gt;saya punya 2 anak cewek saya add, juga istri saya add .. mereka ok2 saja, .. Dengan membaca status .. Paling tidak kita tahu perasaan mereka yg paling update, krn kita tidak setiap saat berdampingan, .. Yg paling seru dimeja makan mereka sll lapor ibunya kalo ada comment yg aneh di wall maupun inbox saya, hehe .. mereka tahu password saya&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;a href="http://www.facebook.com/profile.php?id=1341263271"&gt;&lt;strong&gt;Sofyan Mulyana&lt;/strong&gt;&lt;/a&gt;&lt;br /&gt;kang paulus ,anak saya 5 dan istri satu semuanya doyan fb ,tapi tak satupun sy add di sofyan mulyana (yg anggotanya rata2 teman alumni),karena gaya pertemanan tk kuliah,sma,smp dan sd lain2 ...tapi say a ada account lain utk add mereka shg mereka bisa bebas bicara berkomentar tanpa sadar kalau ayah /suaminya tetap memonitor.....hehe&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;a href="http://www.facebook.com/profile.php?id=1333607944"&gt;&lt;strong&gt;Woro Anjokrowati Sumedang&lt;/strong&gt;&lt;/a&gt;&lt;br /&gt;suami,anak2ku dan aku saling meng"add"... malahan nggak pernah saling komen....cuma untuk sekedar tahu teman2 mereka dan kegiatan sehari2 mereka... maklum ketemunya lebih banyak sama temen2nya daripada orangtuanya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;a href="http://www.facebook.com/somba.tambing"&gt;&lt;strong&gt;Somba Tambing&lt;/strong&gt;&lt;/a&gt;&lt;br /&gt;I treat fb like a cellphone.., cuman anak laki gw aja yg ngeadd, yg cweq kaga confirm.. pdhal dia yg buatin account fb, hehehe.. Ada jg ponakan yg ngeadd, walaupun demikian gw sngat hati2 mberi komen atas status anak gw &amp;amp; ponakan, krn mngerti akan dibaca oleh teman2x yg lain. Kalo nasihat atau share yg lain sy gunakan inbox, btw bukan brarti anak gw yg cweq ga deket ama gw.., setiap ada yg pdkt atau ada yg dia seneng dia selalu lapor lewt bb atau tlp.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;* * *&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Tulisan di atas juga diposting di &lt;a href="http://www.facebook.com/pherlambang?v=feed&amp;amp;story_fbid=166176640662#/note.php?note_id=137044225679"&gt;&lt;span style="color:#3333ff;"&gt;Note facebook saya&lt;/span&gt;&lt;/a&gt;.&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/4737337732396924144-6789165966156616767?l=orangtua-efektif.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/4737337732396924144/posts/default/6789165966156616767'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/4737337732396924144/posts/default/6789165966156616767'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://orangtua-efektif.blogspot.com/2009/09/apakah-anda-memonitor-anak-anak-lewat.html' title='Apakah Anda Memonitor Anak-anak Lewat Facebook?'/><author><name>Paulus Herlambang</name><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='25' height='32' src='http://1.bp.blogspot.com/_ShLybJ76fZ0/Shtg4EFrYAI/AAAAAAAAAGQ/Rsy5fDs0_1w/S220/Paulus.JPG'/></author></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-4737337732396924144.post-700453729094047631</id><published>2007-09-26T17:37:00.000+07:00</published><updated>2007-09-30T18:05:52.422+07:00</updated><title type='text'>Apakah Anda Menjadi Orangtua untuk Hari Ini atau Hari Esok?</title><content type='html'>Oleh &lt;a href="http://www.articlehighlight.com/profile/Steve-Kroening/627"&gt;Steve Kroening&lt;/a&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Ketika saya dan istri saya menikah, kami memiliki banyak persamaan. Tetapi ada satu area di mana kami benar-benar berbeda. Ia hidup untuk masa depan. Saya hidup untuk hari ini.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Sebagai hasilnya, ia memiliki tabungan yang memadai, memiliki rencana untuk keluarga (hingga hal-hal seperti makanan dan liburan), dan dapat memprioritaskan segala sesuatu yang dihadapi, termasuk pengeluaran. Sebaliknya, saya biasa bertindak tanpa perencanaan. Jika saya melihat sesuatu yang saya inginkan, saya membelinya. Jika saya ingin melakukan sesuatu, saya melakukannya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Sesungguhnya, cara hidup saya telah menimbulkan kesulitan baginya. Walaupun demikian, setelah bertahun-tahun ia berhasil meyakinkan saya tentang perlunya membuat rencana ke depan. Saya belum sebaik dia dalam hal ini. Tetapi perubahan itu telah membuat perbedaan besar dalam hubungan dan keluarga kami.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Satu area yang kami tahu harus lebih berorientasi ke masa depan adalah menjadi orangtua. Apa tujuan kami? Apa yang kami inginkan bagi anak-anak kami ketika mereka berumur 18? Termasuk kedewasaan spiritual dan emosional, kemajuan akademis, dan area-area pertumbuhan lainnya. Anak-anak kami masih kecil, sehingga kami masih mengerjakan area-area ini, tetapi kami telah mengubah sebagian cara kami menjadi orangtua.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Misalnya, perubahan disiplin. Kami tidak lagi mengharapkan kesempurnaan saat ini, tetapi kami menetapkan tujuan untuk memiliki anak-anak yang bersikap dewasa pada umur 18 tahun. Ini memungkinkan kami untuk lebih memahami anak-anak kami dan lebih sabar terhadap mereka. Kami bisa meluangkan waktu untuk duduk dan berbicara dengan mereka, bukannya berusaha untuk memaksa mereka memiliki perilaku tertentu. Hal itu juga memberikan kesempatan kepada kami untuk melihat hati mereka, bukan perbuatan mereka saja.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Tentu saja, kami masih harus mendisiplin mereka untuk perbuatan-perbuatan tidak baik yang mereka lakukan hari ini. Tetapi disiplin tersebut kami arahkan untuk mencapai tujuan. Bukan sekadar untuk memperbaiki kelakuan. Jika mereka gagal mencapai kemajuan, kami memiliki cara untuk mengevaluasi di mana mereka berada, mengapa mereka tidak mencapai kemajuan, sehingga kami dapat mengarahkan mereka untuk bergerak maju.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Menjadi orangtua yang berorientasi ke masa depan memengaruhi hal lain juga. Kami memerhatikan kebiasaan makan mereka untuk melihat bagaimana kebiasaan tersebut akan berpengaruh terhadap mereka 20 atau 30 tahun yang akan datang. Kami mengevaluasi bagaimana mereka menghabiskan waktu mereka. Apakah mereka telah mengerjakan tugasnya? Terlalu banyak bermain? Melakukan kekonyolan pada saat yang salah? Dan kami bisa melatih mereka jauh lebih efektif demi masa depan dalam area-area itu.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Jika anda hidup untuk hari ini bersama anak-anak anda, sadarilah bahwa hal itu akan membawa konsekuensi di masa depan. Dan konsekuensi itu akhirnya akan menunjukkan seberapa jauh anda telah mengasihi anak-anak anda ketika mereka masih kecil. Apakah anda mengasihi mereka untuk hari ini saja? Atau anda mengasihi mereka untuk masa depan juga?&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Inilah saatnya untuk duduk dan mengevaluasi tindakan anda serta konsekuensi apa yang akan ditimbulkan di masa yang akan datang. Kemudian bertanyalah kepada diri sendiri, “Apakah metode pelatihan saya akan menghasilkan buah dalam hidup anak-anak saya 30 tahun dari sekarang – buah yang akan menunjukkan betapa bijaksananya atau bodohnya saya ketika mereka masih kecil?” Jika anda tidak suka dengan jawaban itu, inilah saatnya untuk melakukan perubahan – perubahan jangka panjang.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Sumber: &lt;a href="http://www.articlehighlight.com/"&gt;http://www.articlehighlight.com&lt;/a&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Steve Kroening menulis untuk majalah Success dan juga menerbitkan Wisdom’s Edge. Anda bisa memperoleh tip-tip Alkitabiah tentang kesehatan, keuangan, hubungan, menjadi orangtua, dan kesuksesan, yang akan dikirimkan ke kotak masuk email anda setiap minggu. Cukup kunjungi &lt;a href="http://www.wisdomsedge.com/" target="_blank"&gt;http://www.wisdomsedge.com&lt;/a&gt; dan daftarkan diri anda untuk mendapatkan e-zine gratis ini.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Artikel aslinya (dalam bahasa Inggris) dapat dibaca &lt;a title="klik" href="http://www.articlehighlight.com/Article/Are-You-Parenting-for-Today-or-Tomorrow-/5752"&gt;di sini…&lt;/a&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/4737337732396924144-700453729094047631?l=orangtua-efektif.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/4737337732396924144/posts/default/700453729094047631'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/4737337732396924144/posts/default/700453729094047631'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://orangtua-efektif.blogspot.com/2007/09/apakah-anda-menjadi-orangtua-untuk-hari.html' title='Apakah Anda Menjadi Orangtua untuk Hari Ini atau Hari Esok?'/><author><name>Paulus Herlambang</name><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='25' height='32' src='http://1.bp.blogspot.com/_ShLybJ76fZ0/Shtg4EFrYAI/AAAAAAAAAGQ/Rsy5fDs0_1w/S220/Paulus.JPG'/></author></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-4737337732396924144.post-3269556897649062919</id><published>2007-09-14T18:19:00.000+07:00</published><updated>2007-09-30T18:09:32.257+07:00</updated><title type='text'>14 Aturan Sederhana untuk Membesarkan Anak</title><content type='html'>Oleh &lt;a href="http://www.articlehighlight.com/profile/Jamie-Jefferson/421"&gt;Jamie Jefferson&lt;/a&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Menjadi orangtua yang efektif berarti menyediakan waktu untuk memahami kebutuhan anak-anak anda sehingga dapat dipenuhi, percaya diri, dan bahagia. Tentu saja, itu bukan tugas kecil.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Inilah 14 prinsip yang perlu diperhatikan:&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;1. Pertama-tama, sadarilah betapa pentingnya tugas anda. Menjadi orangtua dari anak-anak yang berhasil dan bahagia memerlukan banyak upaya dan perhatian – dan waktu yang sangat banyak dan terus-menerus. Langkah pertama adalah menerima kenyataan – dan menerima peran orangtua sebagai salah satu peran terpenting yang pernah diterima seseorang.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;2. Bersenang-senanglah. Hanya karena tugas kita sangat penting, tidak berarti tugas itu tidak menyenangkan. Hidup bersama keluarga merupakan petualangan yang luar biasa – bukan sekadar kehidupan yang penuh dengan pakaian dan peralatan makan yang harus dicuci. Ingatkanlah diri anda sesering mungkin tentang hal ini. Dan ketika tugas anda sehari-hari sebagai orangtua mulai terasa membosankan, itulah saatnya untuk menyediakan waktu satu hari (atau, paling tidak, satu sore) untuk menikmati acara keluarga. Belilah beberapa tiket untuk menonton pertandingan sepak bola dan bersantailah.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;3. Luangkanlah banyak waktu bersama anak-anak anda. Ketika anda melakukannya, anak-anak akan mengetahui bahwa mereka berhak mendapat waktu, pujian, dan perhatian.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;4. Perlihatkanlah kebiasaan yang sehat dan berhasil. Jika anda menginginkan anak-anak yang sehat, bugar, baik, dan penuh belas kasihan, anda harus hidup dengan cara itu juga. Perlakukanlah pikiran, tubuh, dan jiwa anda dengan sangat hormat. Berikanlah contoh tentang kepedulian, kebaikan, dan belas kasihan dengan cara bekerja bersama (sebagai satu keluarga) dalam suatu proyek sosial selama beberapa jam per bulan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;5. Jadilah pendengar yang baik. Berusahalah untuk bersikap jujur, terbuka, dan penuh perhatian terhadap pasangan dan anak-anak anda. Ketika anak-anak anda berbicara, berusahalah untuk memahami mereka, ajukanlah pertanyaan, dan dengarkanlah pendapatnya. Mendengarkan dengan baik sangat berpengaruh terhadap harga diri anak-anak anda, dan hal itu menolong mereka untuk bertumbuh menjadi pendengar yang baik. Minimalkanlah kontak sosial dengan orang dewasa yang terus-menerus menyuruh anak-anak untuk diam.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;6. Perlihatkanlah kepada anak-anak anda bahwa anda benar-benar tertarik kepada mereka. Pastikan anda memberi tahu mereka – melalui perkataan dan perilaku anda – bahwa anda peduli dengan apa yang mereka suka lakukan, meskipun itu sama sekali berbeda dengan apa yang disukai oleh anggota keluarga yang lain. Terlibatlah dalam kegiatan yang menarik bagi anak anda. Apa pun itu, berusahalah untuk memahaminya dan duduklah untuk belajar dari anak anda.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;7. Berusahalah untuk tidak mencela, melainkan bekerja samalah dengan anak anda tentang kesalahan dengan cara yang elegan. Jangan pernah mencela di depan orang dewasa atau anak-anak lain, termasuk saudara kandung. Berusahalah untuk memahami sudut pandangnya yang unik. Dengan menyediakan waktu untuk melakukan hal itu berarti anda sedang mengirimkan pesan bahwa anda menerima dan memercayai keputusan mereka dan bahwa pendapat mereka berharga dan penting.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;8. Jangan melabel anak-anak anda – walaupun label itu kedengaran tidak berbahaya. Berusahalah untuk tidak mengatakan kepada anak-anak anda bahwa mereka pemalu atau terlalu berlebihan atau terlalu sensitif. Hargailah mereka sebagaimana adanya dan sebagai bakal orang dewasa, sambil terus menghargai setiap tahap yang mereka lalui untuk mencapainya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;9. Pilihlah perdebatan anda dengan sangat hati-hati, dan sebisa mungkin biarkanlah konsekuensi alamiah memberikan pelajarannya sendiri.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;10. Terimalah teman-teman anak-anak anda. Doronglah anak-anak anda untuk mengajak teman-teman mereka ke rumah.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;11. Bersikaplah antusias. Pastikanlah wajah anda tampak ceria ketika anak-anak anda berada di dekat anda.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;12. Berbagilah kisah-kisah keluarga, baik melalui catatan harian keluarga, buku untuk menempel gambar dan tulisan (&lt;em&gt;scrapbook&lt;/em&gt;), atau sekadar menceritakan berbagai kenangan yang berharga bagi anda. Ceritakanlah kisah-kisah tersebut pada semua umur dan tahap kehidupan mereka. Peluklah mereka di bawah selimut pada malam hari untuk membaca di dalam hati, setiap malam dengan buku yang berbeda. Mintalah anak-anak anda untuk mengarang cerita dan membacakannya – atau membuat buku-buku bergambar untuk diperlihatkan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;13. Hargailah semua generasi. Hormatilah kakek nenek, bibi, paman, saudara sepupu. Tunjukkanlah kepada anak-anak anda bahwa keluarga merupakan sesuatu yang dapat mereka andalkan seumur hidup.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Semua ini dapat disimpulkan menjadi sebuah aturan sederhana: Jangan pernah membiarkan gambaran besar itu menjadi kabur. Dengan kata lain, pastikan bahwa anda telah menemukan tujuan anda yang sejati sebagai orangtua dan hiduplah dengan kerangka berpikir seperti itu. Sebagai contoh: Tujuan saya satu-satunya sebagai orangtua adalah membesarkan anak-anak yang bahagia, baik, percaya diri, dan memiliki kedamaian pikiran.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Jika minggu ini mereka memutuskan untuk makan Top Ramen (mi instan) setiap malam sebagai makan malam dan kadang-kadang lupa untuk meletakkan sepatu mereka di tempatnya, maklumilah.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Selamat menikmati perjalanan yang menyenangkan dalam menjalankan tugas yang luar biasa sebagai orangtua.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Sumber: &lt;a href="http://www.articlehighlight.com/"&gt;http://www.articlehighlight.com&lt;/a&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Jamie Jefferson adalah seorang kontributor yang sering menulis untuk &lt;a href="http://www.bestselfhelp.com/" target="_blank"&gt;http://www.bestselfhelp.com&lt;/a&gt;. Bacalah lebih lanjut &lt;a href="http://www.bestselfhelp.com/articles/parenting/" target="_blank"&gt;artikel-artikel tentang menjadi orangtua&lt;/a&gt; dan kunjungilah hari ini juga untuk mendapatkan &lt;a href="http://www.bestselfhelp.com/freebies/" target="_blank"&gt;bahan-bahan untuk menolong diri sendiri secara gratis&lt;/a&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Artikel aslinya (dalam bahasa Inggris) dapat dibaca &lt;a title="klik" href="http://www.articlehighlight.com/Article/14-Simple-Rules-for-Raising-Successful-Children/1542"&gt;di sini…&lt;/a&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/4737337732396924144-3269556897649062919?l=orangtua-efektif.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/4737337732396924144/posts/default/3269556897649062919'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/4737337732396924144/posts/default/3269556897649062919'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://orangtua-efektif.blogspot.com/2007/09/14-aturan-sederhana-untuk-membesarkan.html' title='14 Aturan Sederhana untuk Membesarkan Anak'/><author><name>Paulus Herlambang</name><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='25' height='32' src='http://1.bp.blogspot.com/_ShLybJ76fZ0/Shtg4EFrYAI/AAAAAAAAAGQ/Rsy5fDs0_1w/S220/Paulus.JPG'/></author></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-4737337732396924144.post-1923052667937023653</id><published>2007-09-01T08:35:00.000+07:00</published><updated>2007-09-01T09:49:36.629+07:00</updated><title type='text'>Menjadi Orangtua - Pekerjaan Tersulit yang Pernah Anda Lakukan</title><content type='html'>Oleh &lt;a href="http://www.articlehighlight.com/profile/Joseph-Then/236"&gt;Joseph Then&lt;/a&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Menjadi orangtua merupakan salah satu pekerjaan tersulit yang pernah anda lakukan, tetapi pada saat yang sama bisa menjadi pekerjaan yang paling memuaskan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Memiliki anak itu mudah, tetapi tidak begitu mudah membesarkan mereka. Kadang-kadang membesarkan anak seperti menjalankan suatu tugas yang tidak mendapat ucapan terima kasih. Di lain waktu hal-hal kecil dapat membuat segala sesuatunya berharga.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Namun yang terpenting dalam membesarkan anak adalah kenyataan bahwa masa depan anak-anak anda menjadi jelas. Seberapa baik anda melakukan pekerjaan penting ini akan memengaruhi seluruh kehidupan anak-anak anda.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Menjadi orangtua dimulai pada hari kelahiran anak anda. Seberapa baik anda merawat dan membangun hubungan dengan bayi anda akan menjadi dasar keberhasilan anda dalam membesarkan mereka.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Beberapa anak memang lebih sulit diatur daripada anak-anak yang lain. Tetapi dasar-dasar yang penting dimulai pada masa bayi. Sangat penting untuk membangun hubungan kasih yang dekat dengan bayi anda.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Sekalipun anda harus pergi bekerja pada masa kritis ini, anda tetap dapat membangun hubungan kasih dengan bayi anda, yakni dengan meluangkan waktu sebanyak mungkin bersama mereka saat anda berada di rumah.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Ketika anak anda bertumbuh menjadi anak batita (di bawah tiga tahun), anda akan menghadapi berbagai tantangan baru sebagai orangtua dalam hal disiplin dan pengaruh luar. Namun anda tetap harus membangun ikatan kasih dan saling menghargai.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Ketika anak anda mulai mengenal dunia luar, akan muncul berbagai pertanyaan dan anda akan bersaing dengan para guru dan teman-teman sepermainan mereka guna mendapat perhatian mereka.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Sangat penting pada usia prasekolah ini untuk memiliki komunikasi yang terbuka dan mempertahankan rasa percaya diri anda serta sikap saling menghargai yang telah terbentuk.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Ini merupakan umur di mana anak anda akan mengamati teman-teman sebayanya dan orang lain di sekitar mereka, dan sering kali mencoba melawan otoritas anda. Pertahankanlah disiplin anda tetapi jangan bertengkar, dan bersiap-siaplah untuk berkompromi.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Ingatlah selalu bahwa seorang anak yang bahagia adalah anak yang tahu bahwa ada batas-batas dalam kehidupan. Ini akan membuat mereka merasa aman dan menjadi dasar bagi pembentukan masa dewasa yang stabil.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Pemberontakan di masa remaja kadang-kadang merupakan bagian terburuk dalam tugas sebagai orangtua dan seolah-olah merupakan perdebatan panjang yang terus-menerus.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Sangat penting untuk memiliki komunikasi yang lebih terbuka pada masa remaja ini dibanding masa-masa yang lain. Ini akan membantu anda melewati masa yang sulit ini.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Kadang-kadang mungkin anda membutuhkan sedikit konseling untuk menolong anda melewati masa yang sulit ini. Jangan takut untuk bertanya, dan ingatlah bahwa ini hanya bersifat sementara.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Jika memungkinkan mintalah dukungan dari anggota keluarga yang lain. Pengalaman mereka sering kali dapat membantu anda.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Setelah anak anda melewati masa remaja ini, anda akan dapat memetik hasil dari kerja keras anda, ketika anak-anak anda mulai memerhatikan anda dan menawarkan bantuan mereka.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Sumber: &lt;a href="http://www.articlehighlight.com/"&gt;http://www.articlehighlight.com&lt;/a&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Untuk informasi lebih lanjut tentang menjadi orangtua dan bagaimana anda dapat menjadi orangtua yang lebih baik, silakan kunjungi: &lt;a href="http://www.parentingskill.info/" target="_blank"&gt;Parenting Skills &amp;amp; Tips&lt;/a&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Artikel aslinya (dalam bahasa Inggris) dapat dibaca &lt;a title="klik" href="http://www.articlehighlight.com/Article/Parenting---The-Toughest-Job-You-Will-Ever-Do/7277"&gt;di sini…&lt;/a&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/4737337732396924144-1923052667937023653?l=orangtua-efektif.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/4737337732396924144/posts/default/1923052667937023653'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/4737337732396924144/posts/default/1923052667937023653'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://orangtua-efektif.blogspot.com/2007/09/menjadi-orangtua-pekerjaan-tersulit.html' title='Menjadi Orangtua - Pekerjaan Tersulit yang Pernah Anda Lakukan'/><author><name>Paulus Herlambang</name><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='25' height='32' src='http://1.bp.blogspot.com/_ShLybJ76fZ0/Shtg4EFrYAI/AAAAAAAAAGQ/Rsy5fDs0_1w/S220/Paulus.JPG'/></author></entry></feed>
